728x90 AdSpace

recentcomments
  • Latest News

    Sunday, October 30, 2016

    ​Berfikir dan Bertimbang Rasa

    Saya menduga, sekali dalam hidup anda pasti pernah merasakan atau menghadapi seseorang yang bertingkah laku  seolah tak memikirkan apa yang ia lakukan dan tidak perduli akan perasaan orang lain…. Bener bener cuek bebek..

    Ambillah sebuah contoh yang sangat lazim: Anda sedang berkendara (Motorkah atau mobil), melaju  dijalur kiri atau  tengah. Tiba tiba sekali, ada kendaraan lain dengan kecepatan tinggi memotong dari arah paling kanan untuk belok ke kiri!.

    Anda sangat terkejut, untung masih bisa injak rem. Tapi apa yang anda katakan pada pengendara yang memotong jalan itu ?: Astagfirullah!, Konyol!, Gak mikir!, Sinting nih orang!  Dan mungkin puluhan ..kata dan umpatan lainnya yg otomatis keluar.

    Umumnya kata atau umpatan itu  tidak terkendali karena kaget dan kesal luar biasa. Jadi tak sempat terpikirkan sebelum diucapkan. Dengan kata lain kata kata tersebut keluar sesuai perasaan kita saja. Kita sebut lah itu sebagai  Aksi yang berdasarkan pada  Perasaan atau Emosi.
    Seharusnya sebagai orang dewasa, kita ber-Aksi berdasarkan Emosi atau Pikiran ? ya! Benar Pikiran!. Jadi seharusnya rumusnya menjadi seperti ini bukan? : E – P – A . Emosi – Pikir dulu – baru ber Aksi . Kenyataannya sebagai orang dewasa kita sering  menunjukan reaksi seperti diatas: E –A- P !

    Siapa yang biasanya atau yang sepantasnya  ber Aksi berdasarkan pola EAP? Betul! : anak anak!! . Karena pusat pusat di otak mereka belum sempurna terbentuk atau  bersambungan.

    Ternyata berapa sering  kita sebagai orang dewasa bertindak atau bertingkah laku sehari hari masih dengan pola EAP?.
    Kehidupan yang tergesa gesa setiap hari membuat kita semakin kurang mempunyai kesempatan untuk merenung, termasuk merenungkan apa yang dipelajari anak  anak kita kalau orang tuanya seringkali bertindak berdasarkan EAP. Bagaimana pula lah mereka bertingkah laku ketika mereka dewasa, kalau yang tauladannya sehari hari seperti itu?.
    Umumnya pola reaksi EAP diikuti dengan kurangnya kemampuan untuk menimbang perasaan orang lain. Karena tidak ada kesempatan untuk berfikir sama sekali.. Orang orang yang menerima perlakuannya pasti akan komentar : “ Ya Allaaah , bener benar nih orang, gak punya perasaan!” atau “Bener bener gak peduli perasaan orang lain!” – “Asal ngomong/keluar aja!”
    Semua bermula dari rumah.
    Bayangkanlah kalau orangtua keseringan menunjukkan tingkah laku

    yang EAP, dan kemudian mengabaikan perasaan pasangan dan anak anaknya?!. Pernah terbayangkan bagaimana terbentuknya kemampuan berfikir dan kehidupan emosi anggota keluarga tersebut?.

    Bayangkan kalau anak itu berada dalam situasi sosial lain, seperti lingkungan bermain,  sekolah dan bila bertamu  kerumah orang atau dalam suatu kegiatan bersama?. Bayangkan pula kalau kebiasaan tak terbiasa berfikir dan bertimbang rasa ini terbawa bawa dalam kehidupan nanti ketika dia dewasa di dunia kerja. Bayangkan pula kalau anak tersebut karena satu dan lain hal jadi pemimpin di suatu perusahaan atau disuatu daerah? Apa jadinya bawahannya atau masayarakat yang dipimpinnya?.
    Perasaan, adalah salah satu yang sangat penting bagi manusia. Bila perasaannya diterima, orang tersebut akan merasa seluruh dirinya diterima. Tapi bila perasaan tidak diterima seluruh dirinya menjadi tidak berharga.
    Oleh sebab itu, marilah kita sebagai orang tua era digital ini, betapapun kita tergesa gesa dan waktu terserap oleh gagdget , tidak kehilangan kesempatan untuk merenung, menyelam kedalam diri dan mengembara kemasa lalu kita untuk mampu menemukan hakikat diri kita sebagai orang tua.

    Yuk temukan, apakah kita tipe orang tua yang bertindak dalam keseharian kita menggunakan pola EAP atau EPA?. Apa yang menyebabkan kita  melakukannya?. Apa yang membuat jejaring kebiasaan diotak kita sehingga kita begitu otomatis melakukannya?. Apa yang sudah dipelajari oleh anak anak kita selama ini?. Sudahkah kebiasaan kita bereaksi itu kini merupakan pula kebiasaannya? . Kalau jawabannya YA, maka pertanyaan berikutnya adalah : Apa yang bisa kita lakukan untuk merubahnya?.
    Dimana ada kemauan disitu ada jalan.
    Pepatah lama ini menunjukkan pada kita: tidak ada yang tidak mungkin dibawah matahari, kalau kita mau berusaha dan meminta pertolongan Allah.

    Berikut beberapa hal yang dapat saya sarankan.

    1.Kenali diri  dan sumber dari semua kebiasaan reaksi EAP tersebut.

    2.Sadari bahwa kebiasaan buruk tak ada gunanya. Bukankah   Rasulullah saw mewariskan pada kita agar hari ini lebih baik dari  kemarin? Maka berniatlah untuk memutuskannya, buang, untuk kemudian diganti dan dibentuk sambungan kebiasaan baru yang lebih baik.

    3.Latihlah diri untuk merenung, memikirkan ulang apa yang telah kita lakukan. Bila salah jangan segan untuk minta maaf. Kalau anda orang tua, harus sadari sepenuhnya bahwa meminta maaf tidak merendahkan derajat anda sebagai orang tua, bahkan menaikkannya. Permintaan maaf, menurunkan emosi yang tinggi, dan yang lebih penting lagi anak belajar :”Oh kalau salah minta  maaf ya?”. Insha Allah ia akan melakukan nanti terhadap pasangannya, anaknya, orang disekitarnya, bawahannya atau  masyarakat yang dipimpinnya. Kita harus yakin anak kita insha   Allah akan jadi pemimpin yang baik. Minimal di keluarganya sendiri.

    4.Mudahlah pula untuk meMAAFkan. Dalam ilmu psikologi, tindakan seseorang itu ada alasan /motif dan ada tujuannya.  Sebagai manusia, kita ini penuh keterbatasan. Kita tidak selamanya   mampu untuk tahu apa motif seseorang dan apa tujuan tingkah lakunya. Maka MAAF kan saja lah! Memaafkan itu perintah Allah dan Memaafkan itu pekerjaan mulia.

    5.Pikir dahulu pendapatan, pikir kemudian tidak ada gunanya. Pepatah ini juga mengajarkan kita untuk bertimbang timbang  sebelum melakukan sesuatu. Maka dengan anak anak kita perlubanyak dialog. Ajarkan anak untuk bertimbang dalam melakukansesuatu. Caranya sangat mudah gunakanlah lebih banyak kalimatbertanya. Kalimat bertanya  akan membuat anak atau siapa saja yang kita tanyai untuk berfikir sebelum memberikan jawaban, kemudian akan menengok kedalam dirinya dan timbullahkesadaran diri. Inilah yang terpenting dari penggunaan kalimat bertanya: KESADARAN DIRI.

    6.Dengan dialog dan menggunakan kesadaran diri, kita bisa melatih anak kita untuk berfikir alternatif. Bagaimana kalau begini danbagaimana kalau begitu.. Apa  akibat yang akan muncul bila kitabegini dan bila kita begitu..Bila kita pake baju ini atau pake baju itu, bila ambil jurusan ini atau jurusan itu, bila pilih pasangan yangbegini atau pasangan yang begitu…

    7.Berfikir alternatif akan menghasilkan kemungkinan pilihan pada anak: Plan A,Plan B, Plan C dst berikut konsekuensi yang minimal sudah diperhitungkan dan dipertimbangakan sebelumnya,untuk kemudian harus berani menanggungkan akibat yangditimbulkannya. ..

    8.Proses ini lah yang insha Allah melahirkan anak yang cerdas dan BIJAKSANA!

    Semoga dengan berupaya melatih anak kita agar mampu mengendalikan untuk tidak mengedepankan perasaan dalam bertingkah laku  dan pandai menimbang rasa orang lain, kedepan kita terhindar dari peliknya masalah seperti yang kita hadapi sebagai bangsa sekarang ini, karena pemimpin yang  bicara lebih banyak berdasarkan perasaanya dan tak pandai menimbang perasaan rakyatnya.. Amin.
    Satu hal lagi yang tidak banyak dibicarakan apalagi dibahas orang adalah : Apa yang dipelajari oleh anak dan pemuda Indonesia dan apa dampaknya bagi mereka kemasa depan,bila pemimpinnya seperti ini?

    Penuh Prihatin, Bekasi 30 Oktober 2016
    Elly Risman

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Item Reviewed: ​Berfikir dan Bertimbang Rasa Rating: 5 Reviewed By: Jass
    Scroll to Top